Kawasan Kompleks Bangunan Megalitik di Kabupaten Lahat Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya dan Alam

Ni Komang Ayu Astiti

Abstract


The contribution of tourism to the global economic development continues to increase, affecting the government's policy to make tourism one of the priority sectors of national development after food and maritime. This becomes an opportunity to explore creatively the potential to fill this opportunity. The main question in this research is focus on how the complex area of megalithic building can play an important role in as a resource in national development, especially in the economic sector through tourism. The objective of the study is to restore megalithic complexes from the archaeological context to the social context of today's society as a resource in the development of contemporary times while maintaining its preservation. The method used a qualitative descriptive approach with data collection techniques through direct observation and interview. The results show that this cultural heritage can be a tourism commodity produces products that provide experience in: 1) important historical value; 2) the value of information; 3) aesthetic value; and 4) symbolic value. Strategies used in the management of integrating cultural heritage and the natural environment (landscape), enhancing the role of communities and other stakeholders, maintaining the originality and authenticity of megalithic and landscape buildings, and fostering the desire to invest and community effort. This management is expected to use a conservation approach to cultural and environmental resources as well as community empowerment.

Kontribusi pariwisata dalam pembangunan ekonomi secara global terus meningkat, berdampak pada kebijakan pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan nasional setelah pangan dan maritim. Hal ini menjadi peluang mengekplorasi secara kreatif potensi yang ada. Permasalahan penelitian dalam tulisan ini adalah bagaimana kawasan kompleks bangunan megalitik dapat berperan penting sebagai sumber daya pembangunan nasional khususnya dalam sektor ekonomi melalui kepariwisataan. Tujuan penelitian tulisan ini untuk mengembalikan kompleks bangunan megalitik dari konteks arkeologi ke konteks sosial masyarakat sekarang sebagai sumber daya dalam pembangunan masa kekinian dengan tetap menjaga pelestariannya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa warisan budaya ini dapat menjadi komoditas pariwisata yang menghasilkan produk yang memberikan pengalaman (experiences) dalam: 1) nilai penting sejarah; 2) nilai informasi; 3) nilai estetika; dan 4) nilai simbolik. Strategi yang digunakan dalam pengelolaan yaitu memadukan warisan budaya dan lingkungan alam, meningkatkan peran masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, mempertahankan originalitas dan otentisitas bangunan megalitik dan lansekap, serta menumbuhkan keinginan untuk berinvestasi dan usaha masyarakat. Pengelolaan ini diharapkan menggunakan pendekatan pelestarian sumber daya budaya dan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat.


Keywords


kompleks bangunan megalitik; daya tarik wisata; pengelolaan

Full Text:

PDF

References


Alwi, H. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka.

Ap, J., & Mark, B. (1999). Balancing Cultural Heritage, Conservation and Tourism Development in a Sustainable Manner. In International Conference: Heritage and Tourism. Hong Kong.

Ardika. (2007). Pusaka Budaya dan Pariwisata. Denpasar: Pustaka Larasan.

Astiti, A. (2012). Warisan Budaya dan Profil Kabupaten Lahat. In Sumber Daya Arkeologi dalam Pembangunan Kabupaten Lahat. Lahat: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lahat.

Crowther, D. (1991). Archaeology, Material Culture and Museum. In Pearce, M. S. (Ed.), Museum Studies in Material Culture (pp. 35-46). Washington DC: Leicester University Press.

Damanik, J., & Weber, H. F. (2006). Perencanaan Ekowisata: dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: Andi.

Davidson. (1997). Strategic Marketing Mix, 5th Edition. The Mc Graw Hill Companies, Inc.

Fletcher, J. (1997). Heritage Tourism: Enhancing the Net Benefits of Tourism. In Wiendu, N. (Ed.), Tourism and Heritage Management (pp. 134-146). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Geertz, C. (1997). Cultural Tourism: Tradition, Identity and Heritage Construction. In Wiendu, N. (Ed.), Tourism and Heritage Management (pp. 14-24). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Gunn, C. A. (1998). Tourism Planning. 2nd Edition. New York: Taylor and Francis.

Inskeep, E. (1991). Tourism Planning - An Integrated Sustainable Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.

Kingery, W. (1996). Material Science and Material Culture. In Kingery, W. D. (Ed.), Learning From Things, Method and Theory of Material Culture Studies (pp. 181-203). Washington and London: Smitsonian Institution Press.

Lipe, W. (1989). Value and Meaning in Cultural resources. In Cleere, H. (Ed.), Approaches to the Archaelogical Heritage. New York: Cambridge University Press.

Marpaung. H. (2001). Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: Alfabeta.

Munawaroh, S. (2001). Masyarakat Using di Banyuwangi: Studi tentang Kehidupan Sosial-Budaya. Jantra, I(2), 93-94.

Rangkuti, F. (2002). Measuring Customer Satisfaction Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan dan Analisis Kasus PLN-JP. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Southall & Robinson. (2011). Heritage Tourism. In Robinson, P., Heitmann, S., Dieke, P. (Ed.) Research Theme for Tourism (pp. 177-185). CAB International: Library of Congress Cataloging in Publication Data.

Sudjana. (2000). Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production.

Sunaryo, B. (2013). Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata: Konsep dan aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava Media.

Pemda Kab. Lahat. (2012). Laporan Hasil Penelitian dan Pengembangan Informasi Sebaran Potensi Sumber Daya Arkeologi: sebagai asset budaya lokal daerah Kabupaten Lahat Prov. Sumatra Selatan. Lahat: Pemda Kabupaten Lahat.

Pendit, N. S. (1986). Ilmu Pariwisata sebagai Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Pariwisata.

Pitana, & Surya. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.

United Nation - World Tourism Organization. (2005). Tourism Highlight 2005. Madrid: UN-WTO.an dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta. PT. Pradaya Paramita.

Utama, R. (2011). Refleksi Pembangunan Pariwisata Bali: Antara Pelestarian Budaya dan Pembangunan Ekonomi. Retrieved July 10, 2017, from https://tourismbali.wordpress.com/

Yoeti, A. (2002). Perencana Undang-undang RI. UU tentang Cagar Budaya Pub. L. No. 11 (2010).




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/kapata.v13i2.426



Copyright (c) 2017 Kapata Arkeologi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

KAPATA ARKEOLOGI INDEXED BY:

 

        

View My Stats

 


Copyright of Kapata Arkeologi (e-ISSN 2503-0876 p-ISSN 1858-4101). Powered by OJS. ©Designed by Mujabuddawat.

       Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.