The Worship of Parwatarajadewa in Mount Lawu

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari

Abstract


Bukti-bukti mengenai gunung dianggap sakral dan suci telah didapatkan sejak Masa Prasejarah. Salah Satu gunung yang masih dipercaya sebagai tempat sakral adalah Gunung Lawu. Berdasarkan tinggalan arkeologis Gunung Lawu ini nampaknya mempunyai peranan cukup penting pada masa lalu, bahkan berlanjut hingga sekarang. Studi ini akan menelusuri jejak-jejak pemujaan terhadap parwatarajadewa yang bersemayam di Gunung Lawu. Untuk memecahkan permasahan tersebut digunakan metode pengumpulan data meliputi kajian pustaka, observasi, dan dokumentasi. Setelah itu, data dibedah mengunakan analisis kualitatif dibantu dengan teori Religi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gunung Lawu mempunyai nama kuna (Hindu-Budhha) yaitu katong. Walaupun namanya berubah namun makna yang dikandung tetap memiliki persamaan. Komunitas yang beraktivitas di Gunung Lawu saat itu adalah kaum rsi dan pertapa yang tampaknya memuliakan seorang parwatarajadewa (dewa penguasa gunung). Hal ini berdasar atas banyaknya temuan tinggalan arkeologi di kawasan Gunung Lawu dan didukung pula dengan prasasti yang pernah ditemukan di Candi Sukuh. Nama dewa tersebut menurut Serat Centhini adalah Hyang Girinatha.

Evidence of the mountain as considered sacred and sanctified have been obtained since the Prehistoric Period. One mountain that is still believed to be a sacred place is Mount Lawu. Based on archaeological remains, Mount Lawu seems to have played a significant role in the past, even persisting up till now. Mount Lawu is used as a place to live and religious activity from the past. This study traces the worship of Parwatarajadeway residing on Mount Lawu. In order to solve the problem, it used data collection methods including literature review, observation, and documentation. The analysis used qualitative assisted by Religious theory. The results of this study indicate that Mount Lawu has an ancient name that is katong. Although the name had changed but its meaning still have a resemblance. Community’ activities that move on Mount Lawu around the 15th to 16th century are the rsi and the ascetic who seem to glorify the Parwatarajadewa (the god of the mountain ruler). This is based on many findings of archaeological remains in the area of Mount Lawu and also supported with inscriptions ever found in Sukuh Temple. The name of the god according to Serat Centhini is Hyang Girinatha.


http://dx.doi.org/10.24832/kapata.v14i1.472

Keywords


Mount Lawu; parwatarajadewa; worship

   

Full Text:


PDF
      

Article Metrics

Abstract views: 762 | PDF views: 349 | Total views: 1111
    Crowdsourcing

References


[1] Afriono, R. (2011). Identifikasi Komponen-komponen Bangunan Berundak Kepurbakalaan Situs Gunung Argopuro. Thesis Universitas Indonesia. (view)

[2] Akbar, A. (2013). Situs Gunung Padang: Misteri dan Arkeologi. Jakarta: Change Publication. (view)

[3] Alwi, H. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. (view)

[4] Amboktang, N. B. (2010). Trinitas Dalam Kristen Protestan dan Trimurti dalam Hindu (Studi tentang Ketuhanan dalam Kristen Protestan dan Hindu). Thesis Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim. (view)

[5] Darmosoetopo, R. (1976). Laporan Penelitian Peninggalan-Peninggalan Kebudayaan di Lereng Barat Gunung Lawu. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. (view)

[6] Darusuprapta. (1974). Laporan Penelitian Kekunaan di Bayat Klaten. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. (view)

[7] Djafar, H. (2012). Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana dan Masalahnya. Jakarta: Komunitas Bambu. (view)

[8] Endraswara, S. (2012). Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (view)

[9] Handoko, W. (2015). Tata Kota Islam Kota Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi. Kapata Arkeologi, 11(2), 123-138. (view)

[10] Irawan, S. E. (2017). Candra Sengkala Memet pada Candi Sukuh dan Candi Cetho Sebagai Reprensentasi Kebudayaan Masa Akhir Majapahit. Avatara, 5(1), 1333-1339. (view)

[11] Koentrajaningrat. (2007). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press. (view)

[12] Laksmi, A. R. S. (2014). Pengelolaan Warisan Budaya Pura Tanah Lot sebagai Daya Tarik Wisata di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan. Forum Arkeologi, 27(3), 207-218. (view)

[13] Munandar, A. A.(1990). Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—5 M. Thesis Universitas Indonesia. (view)

[14] Munandar, A. A. (2016). Arkeologi Pawitra. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. (view)

[15] Nastiti, T. S. (2016). Perkembangan Aksara Kwadrat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali: Analisis Paleografi. Forum Arkeologi, 29(3), 175-188. (view)

[16] Noorduyn, J., & Teeuw, A. (2009). Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya. (view)

[17] Nugraha, B. A. (2012). Prasasti-prasasti Candi Sukuh: Suatu Tinjauan Aksara dan Bahasa. Thesis Universitas Indonesia. (view)

[18] Poesponegoro, Marwati, D., & Nugroho, N. (1993). Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka. (view)

[19] Priyanto, H. S. (1999). Pergeseran Pusat Kegiatan Upacara di Situs Megalitik Puncak Gunung Lawu. Berkala Arkeologi, 19(1), 89-106. (view)

[20] Purwanto, H. & Titasari, C. P. (2017a). Candi Planggatan di Kabupaten Karanganyar: Bangunan Suci Milik Kaum Rsi. Naditira Widya, 11(2), 97-110. (view)

[21] Purwanto, H., & Titasari, C. P. (2017b). Upacara Dukutan Masyarakat Nglurah sebagai Bentuk Partisipasi Pelestarian Situs Menggung. In I. K. Sudewa, & I. W. Teguh (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Budaya II (pp. 199-204). Denpasar: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. (view)

[22] Purwanto, H., Titasari, C. P., & Sumerata, I. W. (2017). Candi Kethek: Karakter dan Latar Belakang Agama. Forum Arkeologi, 30 2), 101-112. (view)

[23] Purwanto, H. (2017). Candi Sukuh sebagai Tempat Kegiatan Kaum Rsi. Berkala Arkeologi, 37(1), 69-84. (view)

[24] Riana, I K. (2009). Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nāgarakṛtāgama: Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Gramedia. (view)

[25] Riyanto, S. (2016). Tondowongso: Tanda Peradaban Wangsa di Jawa Abad XI-XIII Masehi. Yogyakarta: Kepel Press. (view)

[26] Santiko, H. (1995). Early Research on Sivaitic Hinduism during the Majapahit Era. In J. Miksic, E. S. Hardiati (Eds.), The Legacy of Majapahit (pp. 55-69). Singapore: National Heritage Board. (view)

[27] Santiko, H. (2005). Hari-Hara: Kumpulan Tulisan tentang Agama Veda dan Hindu di Indonesia Abad IV-XVI Masehi. Jakarta: Universitas Indonesia. (view)

[28] Sedyawati, E., Santiko, H., Djafar, H., Maulana, R., Ramelan, W. D. S., & Ashari, C. (2013). Candi Indonesia: Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Pemuseuman. (view)

[29] Setiawan, I. K. (2016). Hubungan Konseptual Antara Candi-candi di Jawa Timur dengan Pura di Bali. Jurnal Kajian Bali, 6(1), 253-274. (view)

[30] Tim Balai Arkeologi Yogyakarta. (2011). Laporan Penelitian Situs Liyangan, Temanggung, Jawa Tengah. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. (view)

[31] Titasari, C. P. (2000). Kepurbakalaan di Situs Wringin Branjang Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Thesis Universitas Udayana. (view)

[32] Titasari, C. P., & Bawono, R. A. (2015). Situs Arjuna Metapa di Gianyar, Bali: Sebuah Patirthan?. Sangkhakala Berkala Arkeologi, 18(2), 95-109. (view)

[33] Wahyudi, D. Y., Slamet, S. P. J., Munandar, A. A., & Soesanti, N. (2014). Pusat Pendidikan Keagamaan Masa Majapahit. Jurnal Studi Sosial, 6(2), 107-119. (view)

[34] Wiryamartana, I. K. (1990). Arjunawiwāha: transformasi teks Jawa kuna lewat tanggapan dan penciptaan di lingkungan sastra Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. (view)

[35] Yondri, L. (2007). Teknologi, Sumber bahan, dan Pola Susunan Balok Batu Bangunan Punden Berundak Gunung Padang. In Pemukiman, Lingkungan, dan Masyarakat (pp. 97-114). Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Nasional. (view)

[36] Zoetmulder. (2004). Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (view)


Article Metrics

Abstract views: 762 | PDF views: 349 | Total views: 1111



Copyright (c) 2018 Kapata Arkeologi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

KAPATA ARKEOLOGI INDEXED BY:

 

      

 

Copyright of Kapata Arkeologi (e-ISSN 2503-0876 p-ISSN 1858-4101). Powered by OJS. ©Designed by Mujabuddawat.

           Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats