Main Article Content

Abstract

Bencana alam adalah bagian dari riwayat bangsa kita sejak masa prasejarah. Meskipun bencana alam merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, namun disadari masih kurang kesadaran dan kesiapan terhadap kondisi ini. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya angka kerugian material dan non material dalam setiap kejadian bencana. Keadaan ini disebabkan oleh belum optimalnya pelaksanaan penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya dalam mitigasi bencana. Untuk merumuskan konsepsi baru penanggulangan bencana, masyarakat saat ini harus belajar menghadapi bencana alam dari manusia di masa lalu. Nilai dan kearifan lokal masih relevan hingga saat ini karena kita hidup di nusantara yang sama. Sebagai ilmu yang mempelajari budaya manusia yang telah punah, arkeologi dapat membantu menjelaskan sejarah bencana di suatu wilayah dan dampaknya terhadap kehidupan manusia di masa lalu. Dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan, tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan aksi mitigasi bencana yang dilakukan oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai acuan mitigasi bencana di zaman modern ini. Setidaknya ada dua sorotan nilai yang masih relevan. Pertama, pembinaan mental dan karakter masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, dan kedua pembangunan fisik mengenai sifat bencana di masing-masing daerah.


A natural disaster is part of our nation’s journey from the prehistoric era. Even though natural disaster is an inseparable matter with Indonesian people’s lives, but there is still a lack of awareness and readiness due to this issue. The high number sees it as material and non-material losses in every disaster event. This situation is caused by non-optimally disaster management implementation in Indonesia, especially in disaster mitigation. To formulate the new conception of disaster management, modern people should learn how to deal with natural disasters from ancient people. Values and local wisdom are still relevant today since we live in the same archipelago. As a science that studies extinct human culture, archaeology can help explain the history of disasters in a region and its impact on human life in the past.  Using the literature study approach, this paper aims to describe disaster mitigation actions implemented by Indonesia’s ancestors as a reference to disaster mitigation in modern times. At least there are two highlights of values that are still relevant. First is the mental and character building of people who live in a disaster-prone area, and second is the physical development regarding the nature of disaster in each region.

Keywords

natural disaster disaster mitigation ancient disaster mitigation

Article Details

How to Cite
Winaya, A., & Murdihastomo, A. (2021). How Indonesian People in the Past Deal with Disaster Mitigation? An archaeological perspective. Kapata Arkeologi, 17(1), 13-20. https://doi.org/10.24832/kapata.v17i1.13-20

References

  1. Anom, I. G. N. (1997). Keterpaduan Teknis dan Aspek Keagamaan Dalam Pendirian Candi Periode Jawa Tengah. Doctoral Thesis Universitas Gadjah Mada.
  2. Anom, I. G. N., & Hatmadi, T. (1992). Candi Sewu: Sejarah dan Pemugarannya. Klaten: Bagian Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Serah dan Purbakala Jawa Tengah.
  3. Arif, A. (2011). Hidup-Mati di Negeri Cincin Api. Retrieved May 15, 2019, from Kompas.com website: https://nasional.kompas.com/ read/2011/09/14/05272934/hidup-mati.di.negeri.cincin.api?page=all
  4. Arifin, K. (1983). Waduk dan Kanal di Pusat Kerajaan Majapahit, Trowulan, Jawa Timur. Undergraduate Thesis Universitas Indonesia.
  5. BPCB Jawa Tengah. (2017). Tahapan Mendirikan Sebuah Candi pada Masa Lalu. Retrieved June 2, 2019, from Direktorat Jenderal Kebudayaan website: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/tahapan-mendirikan-sebuah-candi/
  6. Carter, W. N. (2008). Disaster Management: A Disaster Manager’s Handbook. Manila: Asian Development Bank.
  7. Geria, I. M. (2015). Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  8. Inajati, A. (2014). Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota. Yogyakarta: Kepel Press.
  9. Noerwidi, S. (2012). Younger Toba Tephra 74 Kya: Impact on Regional Climate, Terrestrial, Ecosystem, and Prehistoric Human Population. Amerta, 30(1).
  10. Raba, M. (2002). Dompu Dulu, Kini dan Esok. Dompu: Pemerintah Kabupaten Dompu.
  11. Riyanto, S. (2015). Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan. Berkala Arkeologi, 35(1).
  12. Riyanto, S. (2018). Liyangan: Kini, Doeloe, dan Esok (a photobook). Yogyakarta: Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  13. Subagio, H., & Poniman, A. (2010). Pemanfaatan GIS untuk Rekonstruksi Kawasan Strategis Nasional Trowulan. Globe, 12(2).
  14. Subagjo. (2012). Kondisi Batu Penyusun Candi Borobudur Sebelum Pemugaran ke II (1973-1983). In 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur, Trilogi I: Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur. Magelang: Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
  15. Sunarti, V. (2014). Peranan Pendidikan Luar Sekolah dalam Rangka Mitigasi Bencara. SPEKTRUM PLS, II(2).
  16. Undang-Undang RI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. , (2007). Indonesia.
  17. Vlake, B. H. M. (2008). Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
  18. Waliono, T., Widodo, E., Fadhilah, A., Surya, A., & Prasastiawati, D. (2015). Pengaruh Kondisi Bentang Lahan Terhadap Kehidupan Masyarakat pada Masa Lampau di Sekitar Situs Liangan, Candi Gunung Pertapaan, Candi Gunung Candi. Yogyakarta.
  19. Yuwono, J. S. E. (2013). Menelisik Ulang Jaringan Kanal Kuna Majapahit di Trowulan. Retrieved May 13, 2019, from Geoarkeologi.blog.ugm.ac.id website: http://geoarkeologi.blog.ugm.ac.id/2013/03/03/menelisik-ulang-jaringan-kanal-kuna-majapahit-di-trowulan-2/